Monday, 25 April 2011

Mahdin..my stronger little brother!

Diawali saat kami memasuki sekolah dasar, pada saat itu kehadiran adikku Mahdin, bak musibah bagiku. Bagaimana tidak, apa yang aku bisa pasti dia bisa, sebetulnya lumrah karena umur kamipun hanya beda 2 tahun, jadi kami bisa dikatakan sebaya, tak heran di setiap permasalahan selalu berselisih yang berujung adu fisik, berkelahi.
Pada saat itu, aku benar benar belum bisa mengerti arti kehadiran mahluk yang satu ini, bahkan ketika kami di sekolahkan di satu sekolah, kami selalu bergiliran menduduki rangking tertinggi, tak ayal akupun merasa tersaingi.
Tak tahan, akhirnya dengan nekat aku memutuskan pindah ke sekolah yang lain, agar tidak terus diganggu dan tak harus bersaing dengan dia, aneh bukan!!!
Tindakanku ini sempat membuat orang tua bingung, biaya sekolahpun jadi berlipat. Sayangnya pada saat itu ego kami sedang tinggi, tidak ada yang mau mengalah. Bertambah parah rasanya untuk ku ketika setiap apa yang ku miliki Mahdin pun menginginkannya. Setiap apa yang ku lakukan dia lakukan juga, terus begitu,, hilang akal aku dibuatnya, jengah rasanya..
Ketika aku berjualan, Mahdin ikut berjualan, padahal pelanggan utamaku adalah dari pihak keluarga, dan otomatis dengan hadirnya dia, pelanggan jadi berkurang. Setiap lomba yang diadakan di setiap kecamatan kami selalu berhadapan untuk bertanding membawa nama sekolah masing-masing.
Tapi pernah satu ketika, kehadirannya seolah tak berarti bagiku, saat itu aku merasa unggul dari Mahdin, bagaimana tidak, sekolah berketetapan untuk mempersingkat masa sekolahku, sehingga tingkatanku lebih tinggi dari Mahdin. Hal itu membuatku terlihat lebih. Sayang, tampaknya dia tak jera dan tak lelah bersaing denganku,,,hmmm menjengkelkan...
Lain halnya dalam urusan pekerjaan rumah, aku dan Mahdin adalah partner sejati. Disitulah aku bisa melihat sorot bangga dan salut kedua orang tuaku. Kami memang bersaing tapi dalam urusan pekerjaan rumah kami adalah partner.
Pernah suatu masa, daya kerja ku dan Mahdin benar benar diuji. Ketika itu dua saudaraku kuliah di Pulau Lombok, di ibu kota propinsi, Mataram. Jarak yang sedemikian jauh, menuntut kami bekerja lebih maksimal membantu keluarga. Musim berganti musim kami bertiga jungkir balik di sawah untuk membiayai kuliah mereka. Saat itulah aku menjadi saudara tertua. Hari-hariku pun lebih banyak di habiskan di sawah, pulang kerumah hanya beberapa kali dalam seminggu. Berangkat sekolah dari sawah, pulang pun kembali ke sawah.
Besar harapanku dan keluarga setelah mereka kembali dari perantauan kuliah, kami pun akan terbantu dalam hal pendidikan, dan memang itulah yang mmbuat kami termotivasi untuk terus bekerja mengais setiap perak rupiah dari hasil panen yang terjual untuk membiayai kuliah mereka.
Singakt cerita, kedua kakakku pun akhirnya dapat menyelesaikan kuliahnya, dengan tepat waktu, bertepatan dengan masanya untuk aku melanjutkan ke sekolah tingkat atas.
Namun harapanku untuk bisa melanjutkan ke sekolah yang selama ini kuidamkan pupus, kandas di tengah jalan. Tak ada biaya lagi, dan kedua kakakku belum juga mendapatkan pekerjaan guna menyokong sekolah ku kelak.
Akhirnya, dengan hanya bermodalkan nekat dan restu Ummi, aku pun berangkat ke kota untuk melanjutkan sekolah, sesuai dengan apa yang kucita citakan selama ini. Sedih rasanya meninggalkan mereka, keluargaku tercinta, terutama mereka, adik adikkku. Kuakui, tak pernah rasanya barang sedetik kami akur, namun ketidakakuran itulah yang membuat rinduku kerap menyeruak. Ironinya, aku jarang pulang kampung....
Singkat cerita, berselang 3 tahun, telah ku tamatkan sekolah kejuruanku, bidang keahlian teknik mesin-otomotif, dengan keahlianku sekarang ini, jelas Mahdin tak bisa menyaingiku lagi. Tersenyum bangga ku di dalam hati. Tapi, senyumku mendadak sirna, entah dengan bagaimana alurnya, lagi lagi dia mampu mensejajarkan langkahnya denganku. Mahdin malah sudah menguasai bidang elektronik, padahal jurusan dibidang itu baru akan dibuka pada tahun ajaran mendatang. Kesal bukan main ku dibuatnya. Mati matian ku belajar, di tempat yang jauh, mengorbankan segala kerinduan, dan Mahdin dengan lenggang kakung menguasai bidang yang lain,,, hmmm baiklah kita mulai lagi kataku dalam hati.
Hal yang menggembirakan bagiku, pengumuman lulusnya aku untuk program beasiswa D3 di Bandung, nilai plus bagiku dihadapan Mahdin.
Justru di saat itulah kurasakan sesuatu yang aneh. Saat ku disibukkan dengan proses administrasi beasiswa, Mahdin mulai sakit sakitan. Selama seminggu, ketika menjelang maghrib dan subuh, Mahdin mengeluh semua tulangnya sakit.
Ah, saat itu mana ku tahu bagaimana mestinya menghadapi Mahdin bahkan dalam kondisi sakitnya. Tak jarang aku mengomelinya, karena menurutku saat itu Mahdin yang penuh semangat dan percaya diri berubah menjadi orang yang sukamengeluh.
Di sisi lain, aku merasa sedih ketika melihat kondisinya semakin parah, dan akhirnya, saat tepat seminggu, Mahdin mengucapkan sesuatu, yang ternyata menjadi permintaan pertama dan terakhirnya padaku. Mahdin meminta segelas air dan agar aku duduk di sampingnya. Seiring tegukkan air yang masuk ke kerongkongannya, air mataku meleleh di pipi tanpa ku sadari.
Pada hari itulah, dengan mutlak, ku menyadari, ku dikalahkan oleh Mahdin. Dikalahkan oleh perasaan getir, dikalahkan oleh perasaan tak tega. Pilu rasanya hati menyaksikan sosok yang di masa lalu kerap ku kalahkan dan kubuat menangis. Sosok itu adalah adikku, adikku Mahdin yang selalu tak mau kalah, adikku Mahdin yang selalu ingin setara, tapi kini, tanpa Mahdin berbuat apa apa, aku menangis.
Satu nasehatnya, yang membuatku berubah , diucapkannya saat itu. Mahdin berkata ” dou ma sasa’e, kone na ngau, ntika, dese ro ntau lawara bune be rau na dou, ta wa’uku kaka’o ba ita, pala sabuapa diragu kai ba mada di ita, samadaku daw’umu kaka’o mu ndaimu” (kakakku, bagaimanapun hebatnya, cantiknya, pintarnya, kayanya orang, pasti mampu kakak taklukkan, tapi satu yang ku khawatirkan pada dirimu kak, yaitu dirimu sendiri, semoga kakak mampu menaklukkan diri sendiri).
Subhanallah….diamku di buatnya. Tak tahu aku bahwa Ummi keluar dari tempat sholatnya dan mendapati kami berdua berpelukan. Menangis sesenggukan sendirian, sementara Mahdin masih tersenyum dalam diamnya. Kuletakkan kepalanya di bantal. Satu persatu keluarga berdatangan. Sesaat aku menjadi semakin tak mengerti ketika semuanya menangis. Aku bingung, kenapa dengan mereka, baru datang langsung menangis. Sedangkan Mahdin, masih menghias bibirnya dengan senyum, tak terlihat raut wajah kesakitan pada hari itu.
Rumah semakin ramai, sementara aku masih belum bisa menyimpulkan apa yang terjadi. Sejujurnya bukan tak bisa, tapi aku belum siap menerima kabar ini bahkan tak pernah siap, dan ketika Abu mengucapkan kalimat “Inalillahi wa inalillahi wa raji’un” beberapa kali, aku tetap belum percaya, belum bisa menerima (bahkan mungkin sampai saat ini) akan kepergiannya, dan akupun hilang dalam ketidaksadaranku…
Itulah Mahdin. Sejak kepergiannya, kumenyadari kehadirannya begitu berarti dalam setiap langkahku. Hingga kini, kehadirannya membuatku mampu menaklukkan diri. Banyak hikmah atas kehadirannya. Ketika dia ikut berjualan yang membuat pelangganku terbagi, membuatku harus lebih inovatif untuk mencari pelanggan dan menjajakan dagangan diluar kampung dan keluarga, alhasil, aku bisa menjual 2 X lipat lebih banyak. Setiap pelajaran yang kudapat, dan dia selalu bisa menyaingi, memaksaku untuk terus lebih giat lagi belajar…
Ternyata, itulah maksud Allah menghadirkan Mahdin untukku. Darinya ku kenal apa itu semangat. Kini Mahdin telah pulang lebih dulu ke rumah abadinya yang penuh kebahagiaan.

Sunday, 28 February 2010

Tidak Melebihi Batas Kemampuanku...

Panas terik matahari menyinari, terkadang angin sepoi menyapa berlalu dengan hembusannya yang halus tak berwujud. Para awanpun segan menghalangi sinarnya sang surya. Irama aliran air sungai yang berdesir menemani sepanjang jalan yang ku lalui. Akhirnya tiba di tujuan sembari merebahkan tubuh di sebuah ruangan berukuran 3x3 meter, tempat yang di sewa sekedar untuk beristrahat dan bernaung ketika lelah dan capek yang singgah di tubuh ini dalam menuntut Ilmu-Nya sang khalik.

Sambil menjalani menjalani profesi sebagai pelajar di salah satu perguruan tinggi di bandung, ku mencoba berjualan kecil-kecilan sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari, dikarenakan jauh dari orang tua dan keluarga, maklum anak rantau. Sambil merapikan sisa jualan yang kemarin, karena hari ini rejeki belum terjemput, jadi belum ada yang laku. Kubuka kembali pelajaran tadi pagi, sembari menunggu waktu Ashar tiba. Sang perutpun mulai meronta minta jatah untuk siang ini, karena tadi pagi hanya di alas dengan sebungkus indomie rebus dengan sepiring nasi putih.

Ku coba membuka dompet, memeriksa kandungannya, yang ada hanya beberapa kartu dan catatan-cacatan kecil. Ku coba mengingat kemabli, perasaan kemarin masih tersisa sebanyak untuk menghargai seporsi makanan pokok. Semua saku di pakaian ku sapa, tapi satupun gak ada yang menyahut akan kandungannya. Hmmm…di mana ya? Sasaran terakhir yaitu pakaian yang dijemur, ku paksakan kaki untuk diajak membantu mengantarkan ke tempat jemuran. Jemuran kemarin, siang ini sudah kering, ku sapa satu persatu. Akhirnya salah satu kantong ada yang menyapa, rupanya ada kandungannya. Alhamdulillah, sehelai kertas cetakan dari PERURI yang bernilai Rp.5000, ku buka perlahan karena lumayan sekarat karena terendam dan terjemur yang cukup lama di tempat yang seharusnya tidak di situ. Sepintas terpikir, untuk beberapa menu yang akan di beli dengan uang sebesar itu.

Waktu ashar tinggal sebentar lagi, tiba-tiba dari arah luar terdengar ada bunyi hentakan kaki menuju arah kamar. Tak sempat bangun untuk melihat, ternyata beliau sudah terlebih dahulu menyapa dengan salam khasnya dari negeri arab itu, balasan secara spontanpun terucap dari lisan ini. Singkat cerita setelah cuap-cuap sedikit, ternyata kedatangan beliau bermaksud untuk meminjam uang, sedikit kaget tanpa expresi sekedar di hiasi senyum. Dengan merogok kembali uang tadi sambil bertanya berapa yang beliau butuhkan. Wow…ternyata yang dibutuhkan melebihi dari yang kumiliki sekarang, terus terang ku berkata sambil menunjukan sisa yang kumilki. Dia tersenyum dan tiba-tiba dia berkata “ berjudi yuuuk….”. kaget tersentak dengan ajakan beliau, karena setahuku beliau sangat agamais yang tentunya mengerti akan hal-hal tersebut sangat dilarang. Prosesor dalam otakku masih loading untuk mengumpulkan bahan untuk beragumentasi , karena memilki keterbatasan pengatahuan yang belum memadai, cukup lama ku berpikir sambil nyengir, yang terlintas mungkin hanyalah gurauan. Tapi Kemudian beliau melanjutkan, dan memberikan arahan cara permainannya. Uuuuppss…ternyata beliau serius, kuperbaiki cara dudukku, ku pasang indera pendengarku, pikirankupun mulai bejat. Hmmmm….mungkin tuhan akan mentolerir cara yang dianjurkan oleh beliau ini karena benar-benar kepepet ma apes saat ini. Beliau mulai berinstruksi “ ntar saya hanya antarkan ke tempatnya, lalu kamu lakukan sendiri, tanpa sepengetahuan orang dan lakukan dengan seiklas-iklasnya bahkan dengan sembunyi-sembunyi, setelah di tempat tersebut nanti akan di sediakan kotak undian yang udah pasti akan ada hasilnya”. Wowwww…aku semakin penasaran, tapi dalam hatiku pertentangan keras timbul dalam batin karena hal tersebut sangat dilarang oleh kelurga lebih-lebih aqidahku, uuupss..keren bahas aqidah brow!!!.lalu Kuberanikan bertanya, “ sob, tempatnya di mana? Kayaknya saya harus segera dech!!! Hehehhe…pikiranku mulai terjerumus, yang ada dalam benakku, paling dosanya di bagi 2 sama beliau soalnya orangnya agamais sedangkan aku modal aqidah pas-pasan pada saat itu (wwoo….berarti sekarang lebih donk?? Lebih baik maksudnya..Amin!!).

Tiba-tiba suara lantunan Adzan ashar berkumandang menggema, seiring itu pula beliau mengajak”yuukkk…kita ke tempatnya segera karena lebih cepat lebih baik”. Waduuhh….kayaknya beliau serius banget nech, sampai-sampai waktu buat menghadap sang Khalik tidak dihiraukan. Aku berjalan mengikuti langkah beliau, tetapi lama-kelamaan arah jalan, kayaknya aku kenal dan sangat tidak asing. Akhirnya sampai di depan bangunan tersebut, “masjid?”tersentak kaget. Lhooo..ko’ tempatnya di sini sih? Ujarku dalam hati. Kubasuh anggota badan yang dianjurkan sebelum menghadap sang Khalik, kutegakkan tubuh ini dibarisan paling depan untuk mengharapkan keridhoan Sang Khalik akan apa yang akan ku lakukan setelah ini. Sampai sujud terakhir dengan diakhiri salam memohon keselamatan kepada sang Rabb. Setelah kewajiban kutunaikan sebagai kebutuhanku, ku mencari beliau tadi, tetapi tak kunjung ketemu, kutunggu dipintu masuk. Hmm…lumayan jenuh, sampe seisi masjid menjadi kosong. Beliau kemana ya? Hmm…positive thinking aja dech! Mungkin sang Khalik menuntunku kearah yang lebih baik, biar aku gk terjerumus dalam perjudian. Kusandarkan badanku ke tiang masjid sambil merosot duduk, badanku terganjal sebelum menyentuh lantai berkarpet itu. Astagfirullah…kotak amal keduduk tanpa sengaja. Sepintas langsung teringat apa yang dikatakan beliau tadi. Memoryku mulai loading mengakses data-data dalam pikiranku, ku mengkaji mencoba mengaitkan ingatanku. Hmmm....jangan-jangan ini perjudian yang beliau maksud tadi, mungkin kotak undian itu adalah kotak amal ini. Tapi sempat terbesit keraguan, masukin apa gak yach? Uangnya! Hmm…kulipat-lipat uang kertasku sambil menutup mataku ku masukkan dalam kotak tersebut, dalam hati sambil berdo’a dengan tiga kata ”Allah Maha Tahu”.

Akhirnya aku pulang dengan mencoba melupakan kejadian sebelumnya tapi berharap undianku menang...upsss balasan dari Allah maksudku!!, karena hal itu pasti…cuman waktunya gak tau, sambil berusaha menenangkan diri!. Setelah sampai di tempat kosku, ku coba buka kembali pelajaran untuk hari esok, tanpa ku sadari ku terjun bebas dalam kelelapan tidur, tak terasa tiba-tiba dibangunkan dengan suara adzan magrib yang menggema di dekat kosanku. Ku tersentak bangun, kemudian bersegera menuju masjid. Setelah selesai sholat dan melantunkan beberapa ayat suci ku bergegas keluar dari masjid, tiba-tiba ada seseorang datang menyapa, menjabat dan merangkulku. Ternyata beliau sudah mengenalku, cuman di aku yang agak rada error sedikit lemot mengingatnya . sambil berbincang-bincang sebentar, beliau menawarkan diri untuk bertamu di tempatku, ternyata beliau memang udah ada maksud ingin bertemu denganku dan juga beliau adalah pelangganku.

Setelah sampai tak ada yang bisa ku hidangkan untuk beliau, kecuali seperempat gelas berisi madu Sumbawa dan segelas susu kuda liar khas kampungku di Bima. Sambil meneguk, beliau mengeluarkan catatan kecil dan berkata” maaf…aku telat bayar madu dan susu yang saya ambil beberapa bulan lalu” aku kaget, karena udah lupa kalau beliau pernah beli tapi belum di bayar. Sambil ku tanda tangani tanda pembayaran tersebut beliau menyodorkan 2 lembar uang kertas, lagi-lagi cetakan PERURI tapi nilainya lumayan, 100 ribu rupiah!!!! Kalau dalam mata uang jepang senilai 1000 yen,hehheheh!! Lumayan ntuk bertahan sampai bulan depan. Setelah beliau pamit…ku sadarkan diriku untuk sujud mensyukuri nikmat Allah. Bukan hanya karena nilai materi yang telah ku dapatkan, tetapi Allah memberikan pelajaran yang luar biasa pada peristiwa ini. Allah benar-benar menguji hamba-Nya tidak melebihi dari batas kemampuan kita.

Kepada para pembaca yang budiman dan baik hati berbudi pakerti luhur berlandaskan pancasila dan UUD ..wkwkwk lebay dech!!!

Intinya, tanpa mengurangi rasa hormat saya mencoba menulis kisah yang pernah saya alami beberapa tahun lalu kepada pembaca semoga dengan beberapa kata yang saya rangkai dengan keterbatasan ini, semoga bisa di ambil Hikmahnya. Banyak fenomena-fenomena dalam kehidupan kita yang merupakan suatu didikan dalam proses kehidupan ini, yang tiada lain Ilmu yang Allah berikan untuk Hamba-Nya yang berpikir…

Minasan ganbatte kudasai neee…!!!
Japan, 28 February 2010
Al Raf Bima

Tuesday, 12 January 2010

Tulisan dari Tinta Hatiku

Cinta, karya indah Sang Pencipta
Dimulakan di surga…
Dirasukkan dalam jiwa Adam dan Hawa
Lalu dianak-pinakkan ke setiap jiwa
Dengan kadar yang berbeda…

Suara merdu, untuk didengarkan
Panorama elok, untuk dilihatkan
Sedang cinta sejati, untuk dirasakan
Oleh hati yang murni
Bersih dari nafsu dan berahi....

Cinta tak lain sebuah prasasti
Yang terbangun di pinggir pantai prahara
Satu hal yang membuatnya kokoh berdiri
Ialah keteguhan hati tuk selalu setia..

Entah suka datang menghiasi hari
Atau duka yang menghampiri
Cinta adalah berbagi
Karena sungguh !
Meski disemayamkan dalam dua raga
Sepasang kekasih hanya punya satu hati....

Rendahnya keangkuhan hati
Lambungkan makna cinta hakiki
Laksana lentingan…
Makin panjang ditarik ke kiri
Makin jauh batu terbang ke kanan...

Cinta…
Nama lain dari keteguhan hati
Tuk selalu letakkan hati kekasih diatas
Demi sebuah pelayaran yang diretas
Menuju pulau kebahagiaan

Mutiara Hati

Jangan pernah hadirkan cinta dengan paksa
Karena ia laksana benih tanaman
Hanya akan tumbuh pada tanah pilihan
Maka taburkanlah benih cinta di ladang kesucian jiwa
Lalu siramlah dengan air kasih sayang
Agar tumbuh dan mekar ceria

Kelembutan cinta
Usap jiwa pecinta dari setiap peluh
Seka tetes-tetes kesedihan yang melahirkan keluh
Lalu membawanya ke tempat teduh
Jauh dari bising prahara dan nestapa

Cinta begitu indah hiasi taman hati
Seperti tulip, mawar dan melati
Perindah kebun dengan irama harmoni
Harmoni sukacita, gembira dan bahagia
Yang mengunjungi nurani silih berganti

Takkan pernah meyakinkan
Cinta diungkapkan dengan lisan
Sebab cinta adalah bunga-bunga perasaan
Hanya sikap yang berhak menjelaskan

Disebut cinta…
Jika tangismu lebih keras dari kekasih
Ketika jiwanya diterjang sedih

Cinta merupakan percikan Rahmat dari Sang Pencipta
Dianugerahkan pada setiap insan yang jernih hatinya
Layaknya telaga...
Hingga hati kekasih mampu bercermin diatasnya 

Saturday, 2 January 2010

SANG PEMBELAJAR di TAHUN 2010

Langkahku terhenti di negeri sakura…
Ku berdiri menghadang terpaan sinar sang surya pagi, mataku berkaca melindungi bola mataku dari panasnya sinar surya , sesekali ku kedipkan mataku tak tahan menahan panas. Ku tundukkan kepalaku, sepoi angin di awal musim dingin menerpa sekujur tubuhku. Aliran darahku terasa berhenti, jemari kaki dan tanganku kaku dan sakit tersengat rasa dingin di negeri sakura. Dedaunan mulai berguguran, pohon sakurapun tinggal batangnya, matahri mulai meninggi. Kusandarkan tubuh ini sembari meneguk mocha teh asli negri sakura, aromanya begitu khas terasa mengaliri tenggorokanku dan rasa hangatnya terhenti di dada. Di sini aku mengulang ingatanku akan dimasa kecilku, aku dilahirkan di sebuah tempat yang amat terpencil dari jangkauan orang-orang sebagian di negriku,

Di tengah malam yang buta, aku terbangun dari tidurku, malam ini adalah malam yang tepat untuk melaut mencari kerang untuk di jual dan sebagiannya untuk dimakan, aku mengambil peralatanku, kuberlari turun dari rumah, dan mengejar rombongan pelaut lainnya, di malam yang masih gelap gulita, aku berlari di jalan setapak yang masih berbatu, sesekali kakiku tersandung tak kuhiraukan. Kuberlari sekencang mungkin sambil berteriak memanggil rombongan itu, dari kejauhan terdengar sahutan, aku mendekati dan akhirnya aku sampai dan bergabung dengan rombongan yang lainnya, perjalanannya cukup jauh dan melelahkan, angin semilir menusuk tubuh kecilku, sambil menuruni tebing, kulilit sarungku di leher dan kami mulai menyebrangi sungai yang terkenal ada buayanya. Aku mempercepat dan berenang masuk di antara rombongan yang lain, heheh..takkuuttt!!!

Sensor cerita, akhirnya aku dan bersama rombongan yang lain di pinggir laut, satu persatu mulai memasuki laut, dinginnya air laut tak menyurutkan niatku,

Tak terasa sang fajar pagi mulai menyapa kami dengan cahaya indahnya dari arah timur mengintip di antara gunung, tapi hasil lautku belum terlalu banyak, sudah berapa kali aku menyelam ke dasar laut mengais Lumpur di dasar laut mencari kerang. Hari semakin panas, matahari mulai tinggi, aku pun beristiraht bersama pencari kerang lainnya, aku duduk di samping pak tua, umurnya sekitar 60an tapi masih kuat untuk menyelam dan mencari kerang, karena dengan salah satu cara ini, kami bertahan untuk hidup. Sambil membuka bekal nasi yang aku bawa dari rumah, tiba-tiba aku diajak ngobrol sama pak tua itu,
“nak…kenapa gak sekolah?” pak tua bertanya.
“hari ini hari minggu pak, jadi sekolah diliburkan”jawabku.
Kamipun makan dengan bekal masing-masing, aku makan dengan lahap sekali, nasiku ditemani beberapa ekor ikan teri yang disisakan bapakku untuk bekalnya di sawah. Walaupun lauknya sederhana, tapi terasa nikmat sekali. Kemudian pak tua tadi melanjutkan pembicaraanya.
“nak, setelah selesai sekolah kamu ingin jadi apa?”tanyanya.
“aku ingin seperti bapak, pintar melaut, dan kuat menyelam”sahutku
Sambil tertawa dan memegang pundakku dia berkata
“nak, kalau mau jadi seperti bapak, gak usah sekolah tinggi-tinggi, bahkan tanpa sekolah sekalipun kamu bisa seperti bapak, asal kamu terbiasa dengan apa yang seperti bapak lakukan” suaranya terhenti karena ada sesuatu yang nyelip di antara giginya, dan aku perhatikan, beberapa giginya udah gugur menjalankn tugasnya untuk mengunyah, kemudian ia melanjutkan.
“nak…justru orang tuamu menyekolahkan kamu agar tidak seperti kami, dan jauh lebih baik, tanpa harus ke sawah dan ke laut”
Aku terdiam dan otakku mulai loading, dengan kalimat bodoh aku bertanya kepada pak tua itu.
“pak, setelah sekolah saya akan menjadi apa?”tanyaku…
“wkwkwk…apapun yang kamu inginkan ada dalam pkiran kamu” jawabnya sambil tertawa, giginya terlihat lucu karena tidak bertetangga.heheh..!!!
“aku pengen jadi orang yang di banggakan orang tua dan membahagiakan mereka pak, tapi sampai sekarang aku masih begini” sahutku sambil tertunduk
“nak,..memang itu yang di harapkan orang tua, tapi semuanya butuh waktu dan proses, apapun yang kamu jalanin sekarang itu adalah bagian dari proses”kata pak tua..
Tak terasa makanan pun habis dan kurebahkan badanku di atas dedaunan kering di tepi rawa. Pak tua menghampiriku, sembari menggulung daun rotan berisi segumpal tembakau kering untuk di jadikan rokok dan berkata padaku.
“nak,…jikalau sudah besar, cobalah tengok kampong disebelah gunung sana, mungkin kamu akan bisa menemukan dan mendapat apa yang kamu cita-citakan” sambil menunjuk gunung yang jauh dan tinggi di sana. Aku langsung terbangun, dan berkata
“aku udah pernah ke sana pak, tapi tidak ada apa-apa, yang ada hanya laut yang terhampar luas tidak bertepi” kataku
“nak…kalau ingin mendapatkan madu, maka carilah disarangnya, jangan sekali-kali untuk menangkap lebahnya untuk kau dapatkan madunya, kalau tidak, kamu akan tersengat dengan rasa yang teramat sakit” kata pak tua.
Aku berpikir sejenak, dan kembali bertanya…
“aku gak ngerti pak” tanyaku
“carilah ilmunya dulu agar kamu bisa mendapatkan apa yang kamu citakan, karena itu adalah sumber dari segalanya”jawabnya.
Aku mengangguk walau sedikit belum paham apa yang di maksud pak tua.
Kemudian pak tua melanjutkan.
“kerjakan dulu apa tugasmu sebagai anak, biar orang tua yang mencarikan nafkah untuk kamu, mulai besok aku tidak mau melihat kamu melaut seperti ini lagi” katanya sambil menghisap rokoknya dan terlihat kepulan asap menutupi wajahnya.

Sensor waktu, tak terasa aku sudah beranjak dewasa dan dapat menyelesaikan sekolah menengah atas sampai selesai, dengan bekal restu orang tua serta iman di dada, ku melangkah meninggalkan kampung tercinta, ku ingin membuktikan kata pak tua ada apa diseberang sana. Laut ku sebrangi,pulau-pulau ku lewati, hari berganti hari, tahun silih bertambah, aroma kampungku tak tercium lagi,tapi aku belum dapat dan menemukan sumber yang pak tua pernah ucapkan dulu, tapi telapak kakiku terasa masih ingin mengajakku menapaki bumi ini untuk mencari sumber itu….

Hari ini tanggal 1 januari 2010, aku hentikan kakiku sementara, tepat diatas negeri sakura, aku berdiri menghadap kiblat, sembari mengangkat kedua telapak tanganku, memohon kepada Rabbku sang Maha Pemilik sumber segala-galanya…

Ya Rabb…berikan kesempatan umur hamba-Mu ini untuk meraih anugerah Ilmu yang Engkau miliki.

Wednesday, 16 September 2009

Beda nasib antara uang pecahan 1K & 100K




Pagi yang indah di salah satu hari-hari penuh berkah di bulan Ramadhan. Sepotong imel mendarat di PC saya, berkisah tentang perjalanan potongan uang seribuan dan seratus ribuan. Saya pikir cuma cerita lucu biasa, yang sering dikirim teman-teman saya untuk menunggu waktu berbuka. Namun ternyata - walau cukup lucu - ada hikmah yang dalam dari cerita tersebut. Enggak asal melucu.

Berikut ini ceritanya:

Konon, uang seribu dan seratus ribu memiliki asal-usul yang sama tapi mengalami nasib yang berbeda. Keduanya sama-sama dicetak di PERURI dengan bahan dan alat-alat yang oke.

Pertama kali keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribu sama-sama bagus, berkilau, bersih, harum dan menarik. Namun tiga bulan setelah keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribu bertemu kembali di dompet seseorang dalam kondisi yang berbeda.

Uang seratus ribu berkata pada uang seribu :"Ya, ampiiiuunnnn. .......... darimana saja kamu, kawan? Baru tiga bulan kita berpisah, koq kamu udah lusuh banget? Kumal, kotor, lecet dan...... bau! Padahal waktu kita sama-sama keluar dari PERURI, kita sama-sama keren kan ..... Ada apa denganmu?" Uang seribu menatap uang seratus ribu yang masih keren dengan perasaan nelangsa. Sambil mengenang perjalanannya, uang seribu berkata :

"Ya, beginilah nasibku , kawan. Sejak kita keluar dari PERURI, hanya tiga hari saya berada di dompet yang bersih dan bagus. Hari berikutnya saya sudah pindah ke dompet tukang sayur yang kumal. Dari dompet tukang sayur, saya beralih ke kantong plastik tukang ayam. Plastiknya basah, penuh dengan darah dan taik ayam.

Besoknya lagi, aku dilempar ke plastik seorang pengamen, dari pengamen sebentar aku nyaman di laci tukang warteg. Dari laci tukang warteg saya berpindah ke kantong tukang nasi uduk, dari sana saya hijrah ke 'baluang' (pren : tau kan baluang...?) Inang-inang.

Begitulah perjalananku dari hari ke hari. Itu makanya saya bau, kumal, lusuh, karena sering dilipat-lipat, digulung-gulung, diremas-remas. ......"

Uang seratus ribu mendengarkan dengan prihatin.: "Wah, sedih sekali perjalananmu, kawan! Berbeda sekali dengan pengalamanku. Kalau aku ya, sejak kita keluar dari PERURI itu, aku disimpan di dompet kulit yang bagus dan harum.

Setelah itu aku pindah ke dompet seorang wanita cantik. Hmmm...dompetnya harum sekali. Setelah dari sana , aku lalu berpindah-pindah, kadang-kadang aku ada di hotel berbintang 5, masuk ke restoran mewah, ke showroom mobil mewah, di tempat arisan Ibu-ibu pejabat, dan di tas selebritis. Pokoknya aku selalu berada di tempat yang bagus.

Jarang deh aku di tempat yang kamu ceritakan itu. Dan...... aku jarang lho ketemu sama teman-temanmu. "

Uang seribu terdiam sejenak. Dia menarik nafas lega, katanya :

"Ya. Nasib kita memang berbeda. Kamu selalu berada di tempat yang nyaman. Tapi ada satu hal yang selalu membuat saya senang dan bangga daripada kamu!"

"Apa itu?" uang seratus ribu penasaran.

"Aku sering bertemu teman-temanku di kotak-kotak amal di mesjid atau di tempat-tempat ibadah lain. Hampir setiap minggu aku mampir di tempat-tempat itu. Jarang banget tuh aku melihat kamu disana....."
.
Image removed by sender.

Tuesday, 15 September 2009

Wong Fei Hung (Faisal Hussein Wong) Adalah Muslim (Ulama)




Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu
dalam film Once Upon A Time in China. Dalam film itu, karakter Wong
Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong, Jet Li. Namun
siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?

Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri
legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China
oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya
mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga
supremasi kekuasaan Komunis di China.

Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari
keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan
dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga
merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila
di-bahasa-arab- kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.

Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu
pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok
(wushu/kungfu) . Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po
Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang
ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu
beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari
Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari
diwariskannya kepada Wong Fei Hung.

Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik
beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim
membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah
dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat
menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya
berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya
pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien
yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang
bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu
tanpa pamrih.

Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah
melawan pemerintahan Dinasti Ch'in yang korup dan penindas. Dinasti
Ch'in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang
memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya
Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama
Islam.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada
Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah
yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei
Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris.
Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan
andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung
Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa
pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch'in pada 1734.

Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir
mengalahkan dinasti penjajah Ch'in yang datang dari Manchuria
(sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch'in
tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia,
Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya
akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch'in.

Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru
pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah
menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil
mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin
sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat
taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus
Sembilan Pukulan Khusus. Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung
juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton
pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri
bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil
menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan
kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin
yang akan mereka peras.

Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai
cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian
dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena
istri-istrinya meninggal dalam usia pendek. Setelah istri ketiganya
wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia
bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan
juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan
hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada
kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.

Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat
Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan
pembela kaum mustad'afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela
kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas
orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian
yang dimilikinya. Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum
yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu
pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati
Syahid. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Allah Swt dan
semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim
yang hidup setelahnya. Amiin.